PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL DI ICU
Pendahuluan
Infeksi nosokomial atau infeksi di dapat
di rumah sakit berkembang sebagai akibat dari masuknya pasien ke rumah sakit.
Hal ini sangat berhubungan dengan mortalitas dan morbiditas dan menyangkut
biaya perawatan. Infeksi sering berhubungan dengan organisme yang resisten atau
menjadi resisten terhadap antibiotik. Adapun prinsip diagnose infeksi
nosokomial menurut Centre for Disease Control adalah:
1.
Ditemukan adanya infeksi lokal yang dilihat dari
pemeriksaan klinik dan hasil laboratorium dan tes diagnosa yang lain.
2.
Dokter mendiagnose infeksi dengan melihat
langsung pada luka operasi, endoscopi dan prosedur diagnostik lain.
3.
Didapatkan infeksi di rumah sakit dalam masa
inkubasi, tetapi kejadian infeksi setelah pulang dari rumah sakit.
Gambaran Umum
5 - 10% pasien rawat inap mendapat infeksi
nosokomial. 3% pasien meninggal akibat infeksi nosokomial meskipun angka
kematian bervariasi untuk sumber sepsisnya. Penelitian di Amerika Serikat
menunjukkan bahvva akibat infeksi nosokomial, lama perawatan bertambah
rata-rata empat hari dan biaya perawatan meningkat. ICU yang mempunyai 2 - 7%
dari tempat tidur rumah sakit, tetapi angka kejadian infeksi nosokomialnya 30 -
40%.
Organisme penyebab infeksi bersumber dari
exogen seperti kontaminasi imus, alat-alat bantu pemafasan, ataupun bersumber
dari flora endogen pasien sendiri dari oropharing, saluran cerna, saluran
kencing, dan permukaan kulit. Organisme
penyebab infeksi nosokomial terbanyak telah berubah-ubah
dalam 30 tahun terakhir. Tahun 1950 staphylococcus aureuy merupakan bakleri
yang dominan. Gram negatif dominan tahun 1970, tetapi baksil gram positif yang
menunjukkan resistensi pada beberapa antibiotik dominan pada tahun 1980.
Bakteri lain yang biasanya dengan tingkat keganasan rendah seperti virus,
jamur, dan parasit mempengaruhi daya tahan tubuh pasien. Masalah ini bertambah
dengan epidemi dari AIDS, Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV dimana pengobatan
masih terbatas, dari ini juga merupakan ancaman bagi petugas kesehatan
sebagaimana ancaman pada pasien.
Faktor-faktor
yang Mempermudah
Banyak penelitian klinis menunjukkan bahwa
ada 4 konsep dasar yang berpengaruh terhadap kejadian infeksi.
1.
Flora Endogen
Organisme yang
merupakan flora normal pada beberapa organ dapat menjadi penyebab infeksi
ketika ada perantara seperti pasien dengan endotrakheal tube, tusukan intravena
atau kateter urine.
2.
Faktor Rumah Sakit
Rumah sakit
menjadi reservoir bagi organisme patogen
yang meliputi adanya pasien yang parah, staf rumah sakit yang menularkan organisme
antar pasien, penggunaan
antibiotik spektrum luas dan penggunaan alat-alat untuk monitor atau pengobatan
pada pasien.
Semua faktor
ini meningkatkan pertumbuhan dan penyebaran organisme di rumah sakit dan
diantara pasien dengan pasien.
3.
Faktor Pasien
Beberapa
faktor intrinsik dapat mendukung terjadinya infeksi, seperti usia tua, pasien
dengan gangguan yang kronis, luka terkontaminasi, pengobatan steroid atau
obat-obat immunosupresif dan perawatan di rumah sakit yang lama.
4.
Resistensi Antibiulik
Resisten
terhadap satu atau lebih antibiotik senng menyebabkan organisme tersebut
memmbulkan infeksi. Penggunaan antibiotik berspektrum luas akan menambah
masalah. Obat ini membabat flora normal dalam saluran gastro intestinal, pharing,
dan saluran kencing dan kemudian diikuti pertumbuhan vang berlebihan dengan
ikatan yang lebih resisten.
Sumber Infeksi
Nosokomial
Beberapa hal yang dapat menjadi
sumber kejadian infeksi nosokomial meliputi:
1.
Tindakan Invansif
Tindakan
invansif adalah suatu tindakan menusukkan alat-alat kesehatan ke dalam tubuh
pasien, sehingga memungkinkan
mikro organisme masuk ke dalam tubuh. Tindakan invansif sangat banyak jemsnya,
khususnya di ICU, dimana pasien sering menggunakan bermacam-macam selang
sekaligus, atau mengalami beberapa tindakan seperti:
·
Suntikan
pungsi (vena, lumbat, perikardial, pleura, suprapubik,
arteri, dll)
·
Pemasangan alat (kontrasepsi, katheter urine,
katheter jantung, intravena, arteri pipa endotrakheal, nasogaster, drain, dll).
·
Tindakan bronkoskopi, angiografi, dll.
2.
Tindakan Invasif
Operasi
Tindakan operasi ini membutuhkan sayatan pada
tubuh pasien, sehingga micro organisme. dapat masuk ke dalam tubuh. Infeksi
luka operasi menunjukkan 20 - 25 % dari semua infeksi nosokomial. Mikro organisme
biasanya berasal dan flora pasien itu sendiri, tetapi dapat juga dari
kontammasi alat cairan yang digunakan atau juga dari para petugas yang ada.
3.
Tindakan Non Invasif
Tindakan ini
menggunakan alat-alat kesehatan tanpa memasukkan ke dalam tubuh pasien, telapi
dapal menyebabkan micro organisme masi:k atau menular kepada orang lain.
Dan semua
komponen yang terlibat dan berada disekitar pasien dirawat dapat merupakan
sumber infeksi. Hal ini meliputi:
a.
Prosedur tindakan dari petugas yang tidak baik/aseptik.
b.
Alat,
bahan atau cairan
yang terkontaminasi.
c.
Ruangan yang tidak memenuhi syarat, terutama dilihat dari sudut mikrobiologis.
d.
Ketidaktahuan/ketidakmautahuan petugas terhadap
tindakan aseptik.
e.
Jumlah dan perilaku pengunjung.
Strategi Pencegahan
Dan Penanganan Infeksi Nosokomial
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
upaya pengendalian infeksi nosokomial adalah sebagai berikut:
1.
Hiegiene Perseorangan dan Cuci Tangan
Hiegiene
perseorangan membantu seseorang menjadi bersih dan nyaman. Dan terutama
bertujuan untuk mencegah infeksi, mempertahankan integritas jaringan dan
mempertahankan relaksasi. Hiegiene perseorangan ini meliputi :
kebersihan kulit, kuku, mata, mulut, hidung, teiinga, rambut dan daerah
perineal.
Cuci tangan
secara khusus telah . dipromosikan untuk mengurangi penularan infeksi sejak ±
15 tahun VII. Cuci tangan yang benar dari petugas dapat menurunkan 25 -30%
kejadian infeksi nosokomial. Untuk cuci tangan ini dipergunakan :
·
Air mengalir
·
Sabun/desinfeksi (savlon, aquaous chlorhexidine)
·
Handuk/tisue disposible
·
Tindakan rutin/tindakan khusus seperti persiapan
operasi
Adapun
prosedumya adalah :
1.
Gosokkan telapak tangan kanan dengan telapak tangan
kin.
2.
Gosokkan telapak tangan kanan diatas punggung
tclapak tangan kiri dun sebaliknya.
3.
Gosokkan telapak tangan kanan dengan telapak
tangan kin dengan jari-jari disilang.
4.
Punggung jari berhadapan dengan telapak tangan
Jari saling terkunci.
5.
Putar dan gosok jempol tangan kanan dengan tangan
kiri dan sebaliknya.
6.
Putar dan gosok ujung jari-jari dan lempol tangan
kanan, kedepan dan kebelakang pada permukaan telapak tangan kiri dan
sebaliknya. Untuk tindakan operasi lakukan tindakan tersebut dalam 2 menit,
keringkan.
2.
Tim Pengendalian Infeksi
Tim
pengendalian infeksi rumah sakit bertujuan untuk meminimalkan resiko infeksi
pada pasien dan petugas. Tim ini bertugas untuk :
·
Mengumpulkan data tentang angka infeksi.
·
Memonitor penggunaan antibiotik dan pola
sensivitasnya.
·
Menyediakan feedback pada pemakai, seperti
petugas yang ada di rumah sakit.
·
Memonitor pelaksanaan berbagai tmdakan/prosedur
di rumah sakit.
·
Mengembangkan kebijakan dan protokol yang dapat
menurunkan angka infeksi.
·
Menetapkan prosedur desmfeksi dan sterilisasi.
·
Memonitor pengelolaan sampan dan limb ah rumah
sakit.
·
Mengembangkan prosedur pengelolaan sampah medis.
·
Mencegah infeksi melalui:
-
Mempromosikan cuci tangan yang efektif.
-
Menetapkan petunjuk untuk mencegah
infeksi-infeksi tertentu.
·
Menetapkan prosedur isolasi atau penampungan
infeksi.
·
Mensupervisi petugas kesehatan tennasuk tentang
vaksinasinya.
3.
Dekontaminasi
Selektif Saluran Gastro
Intestinal
Pertumbuhan
bakteri yang cepat pada saluran pencernaan sebagai hasil pemberian obat-obatan
penghambat asam lambung dapat membawa pada infeksi pneumonia dan multi
organ distress syndrom. Bakteri
tersebut dapat membenmk kolonisasi di oroparing. Sejumlah penehtian membuktikan
bahwa dekontaminasi selektif saluran pencernaan dapat memutuskan lingkaran
kolonisasi infeksi.
Pada pasien
diberikan antibiotik oral, seperti :
polimixin, tobramycin,
Gentamycin, Neomycin, Nistatin
atau amphotericin. Preparat ini aktif melawan bacteri gram negatif atau
jamur disaluran Gastro intestinal.
4.
Isolasi
Isolasi adalah usaha pencegahan/penyebaran kuman
patogen dari sumber infeksi (pasien, petugas, pengunjung, karier) kepada orang
lain. Jenis isolasi yang
dilakukan sesuai patogenitas kuman
dan cara penularan/ penyebarannya.
5.
Pengelolaan Ruangan dan Lingkungan
Ruangan dan
lingkungan harus dijaga kebersihan, kelembaban, penyinaran dan ventilasinya.
Juga periu dilakukan monitoring angka kuman ruangan dan jenis mikrobia secara
periodik, terutama ruang operasi, ICU, ruang bayi beresiko.
6.
Pengelolaan Sampah
Diruangan
harus tersedia tempat sampah yang dibedakan antara sampah biasa (tidak
terkontaminasi) dengan sampah yang terkontaminasi, juga sampah medis seperti ; spuit,
Jarum, dan benda tajam lamnya harus disediakan.
Dan
pengelolaannyapun harus dibedakan antara masing-masing Jenis sampah tersebut.
7.
Memakai Alat-Alat Perlindungan
Petugas dapat
menggunakan alat-alat proteksi diri seperti : pakaian khusus, sarung tangan,
masker, dll, terutama bila berhubungan
dengan kasus. Kasus infeksi yang menular,
8.
Pencegahan Infeksi yang Berkaitan Dengan Tindakan
Invasif
Beberapa
tindakan invasif- terutama di ICU, dapat menjadi sumber terjadinya infeksi.
Infeksi yang dilaporkan paling banyak, mengenai saluran kencing, saluran
pemafasan bawah dan luka operasi.
a.
Infeksi Saluran Kencing
Infeksi saluran
kencing merupakan 40% kejadian dari seluruh infeksi nosokomial. Infeksi
ini terjadi paling senng karena pemakaian kateter urine. Organisme bisa masuk
ke kandung kencing melalui lumen kateter (intra luminal) maupun sisi luar
keteter (ekstra luminal). Pyuria dan bakteri uria dapat terjadi pada wanita,
orang tua, dan pasien dengan sakit parah.
Untuk pencegahan dan penanganannya adalah :
-
Pemasangan kateter urine harus dengan indikasi
pasti seperti inkonentia urine
dan segera dilepas setelah memungkinkan.
-
Insersi kateter harus dengan tehnik aseptik
-
Sambungan
ke urine bag harus rapat dan kuat.
-
Sampel
untuk pemeriksaan laboratorium
harus dengan cara dan alat steril.
-
Perawatan harus baik, dengan menggunakan
antiseptik dan tidak boleh
sampai terjadi obstruksi.
b.
Infeksi Saluran Pemafasan Bawah
Pneumonia
adalah penyebab umum kematian di rumah sakit dan merupakan 15% dan semua
infeksi nosokomial.
Faktor yang mempermudah kejadian pneumonia antara lain :
o Intubasi dan
trakheostomi
o Perawatan di
ICU
Untuk pencegahan dan penanganannya.:
-
Keadaan dan prosedur yang dapat meningkatkan
resiko aspirasi harus diperhatikan, misalriya pasien tidak sadar.
-
Pemasangan pipa endotrakheal secara aseptik.
-
Sirkuit ventilator diganti setiap 24 - 48 jam.
-
Penghisapan
lendir dari endotrakheal atau trakheostomi harus dengan prinsip
aseptik.
-
Pemberian antibiotik sesuai hasil kultur.
-
Tinggikan bagian kepala dari tempat tidur 30°
c.
Infeksi Luka Operasi
Untuk pencegahan infeksi luka operasi
adalah dengan :
1)
Tindakan Umum
-
Petugas
harus memperhatikan kesehatan dan
personal hygiene dirinya.
-
Menerapkan tehnik operasi yang benar.
-
Bekerja sesuai dengan prinsip aseptik dan
antiseptik, Mengikuti peraturan dan tata tertib yang berlaku.
-
Mempertahankan kesterilan alat, lingkungan, dll.
-
Menjaga petugas dengan infeksi yang aktif untuk
diluar ruang operasi.
2)
Penggunaan Antibiotik Profilaksis Antibiotik profilaktik
diberikan dengan indikasi yang tepat, baik single dose maupun yang
kontinyu.
d.
Infeksi karena alat-alat introvaskuler
Alat
intravaskuler sudah umum di rumah sakil, khususnya di ICU, dimana pasien sering
menggunakan beberapa alat sekaligus. Alat-alat ini memungkinkan masuknya
mikro organisme ke dalam sirkulasi dan meningkatkan kemungkinan
terjadi baktcriemia dan septicemia. Kompliksi vang lain adalah plebitis
dan infeksi uiidokaidilis.
Faktor
resiko teqadinya bacteriemia
karcna alat-alat intravaskuler adalah:
-
Kulit yang mengelupas
-
Neutropenia
-
Usia kurang dari satu tahun atau lebih dari 60
tahun.
-
Penyakit dasar yang parah.
-
Terapi steroid atau immunosupresi
-
Adanya infeksi
Usaha-usaha penccgahan
infeksi:
2)
Tindakan Umum :
-
Cuci tangan secara adekuat.
-
Disinteksi kulit dengan benar.
-
Insersi dilakukan dengan prinsip aseptik.
-
Insersi
dan pengelolaannya dilakukan
oleh tim intravena.
-
Fiksasi yang kuat untuk mencegah perubahan posisi.
-
Selang-selang harus tertutup rapat.
-
Dilakukan dressing secara steril ditempat
tusukan.
-
Monitor tempat tusukan setiap hari.
2)
Tindakan Khusus:
a.
Kateter vena perifer
Kateter
diputar-putar setiap 48 - 72 jam.
b.
Kateter vena sentral dan kateter arteri pulmonal
-
Preparasi
tempat tusukan secara adekuat.
-
Insersi dengan prinsip aseptik.
-
Monitor tempat tusukan.
c.
Kateter arteri:
-
Ganti selang setelah 96 jam.
-
Gunakan tehnik aseptik untuk memasang dome dan
selang-selang.
-
Hindari stopcock yang tidak perlu.
2)
Tehnik-tehnik yang tidak memberikan keuntungan :
-
Antispetik krim untuk tempat tusukan.
-
Sering mengganti dressing.
-
Rutin memflush kateter vena sentral.
TRANSPORTASI PADA PASIEN
KRITIS
Transportasi pasien atau memindahkan pasien dari salu
tempat ke tempat
lain seringkali diperlukan, namun perlu diingat bahwa pasien dengan sakit yang
kritis tidak mempunyai atau hanya mempunyai sedikit cadangan
fisiologik. Sehingga
pemindaliaii pasien kritis dapat menimbulkan problem yang besar. Alasan itulah maka
pemindahan pasien kritis
memerlukan perencanaan yang cermat serta pengawasan yang ketat.
Pedoman Transportasi Pasien Kritis
Pemindahan pasien kritis dengan aman
didasarkan atas 5 pedoman, yaitu :
1.
Perencanaan
2.
Sumber daya manusia
3.
Peralatan
4.
Prosedur
5.
Lintasan.
Kategori
Transportasi Pasien
1.
Transportasi intra mural (pemindahan dalam satu
lingkup RS).
2.
Transportasi ekstra mural (pemindahan di luar RS).
Ada 3 jenis
pemindahan:
a)
Pre RS (primer)
Dari tempat kejadian ke RS
b)
Inter RS (sekunder)
Pemindahan
dari RS ke RS lain
c)
International
Jarak lebih
dari 5.000 km.
3.
Kategori Transportasi lainnya.
a)
Transportasi Neonatus/anak.
b)
Transportasi pada pasien yang mengalami kecelakaan
sewaktu menyelam.
c)
Transportasi pasien ICU pada saat kebakaran.
Transportasi Intra Mural
Pemindahan pasien dalam lingkungan •RS seringkali dipedukan, sebagai
contoh dari UGD, kamar operasi atau dari ruangan/zaal yang akan masuk ke ICU,
ataupun untuk keperluan diagnostik. Pemindahan pasien dalam lingkungan RS relatif sederhana, meskipun pada keadaan
darurat tetap harus diperhatikan/diantisipasi.
(Keuntungan dari intervensi pemindahan
pasien harus mempertimbangkan resiko dari pemindahan tersebut, lebih-lebih
pada pasien kritis.
Langkah-langkah ipemindahan pasien harus ditata dengan baik, sehingga
dapal tedundar dari bahaya baru atau resiko lain.
Perencanaan
Perencanaan harus ditetapkan sebagai
protokol dan dibuat
sejelas mungkin. Perawatan selama
pemindalian harus sebanding
dengan perawalan selama di ruangan. Waktu pemindalian harus ditetapkan. Termasuk
rule perjalanan yang akan dilcwati. Komuiukasi antar petugas untuk koordinasi
ineinpunyai penman penting. Perencanaan yang salali akan menyebabkan memefektintas
dan memperpanjang atau
mempedama perjalanan pemindal-ian.
Sumber Daya Manusia
Jumlah
tenaga, ketrampilan skill
petugas liarus dipertimbangkan sesuai dengan kondisi pasien yang
dipindahkan. Tim transportasi merupakan
kombinasi dari dokter, peraw'at dan profesi lain yang terkait. Setiap anggota
tim liarus familiar terliadap peralatan yang digunakan, mempunyai kemampuan
serta berpengalaman mengenaii dan mengatasi masalah, seperti
kemampuan untuk pembebasan
jalan nafas, ventilasi, resusitasi ataupun undakan kedaruratan lain. Di dalam
tim harus ada pembagian tugas yang jelas, sehingga memudahkan prosedur.
Peralatan
Peralatan selama pemindalian liarus tetap
berfungsi sampai tempat tujuan. Peralatan liarus mudah penggnnaannya, dan tidak
dibenarkan peralatan diletakkan pada pasien atau dibawa oleh petugas. Peralatan
yang dibawa disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi pasien. Monitor EKG,
denyut nadi dan tcnsi dipedukan oleh setiap pasien (kecuali pada pemindalian
pasien dalam proses penyembuhan ke bangsal perawatan biasa).
Monitor respirasi, oksi metri, alat
defebrilasi dan suction liarus disediakan pada pasien yang tergantung pada
ventilator atau pasien yang unstabil. Ventilator portable akan memberikan
ventilasi yang lebih konsisten dibandingkan dengan kantong Resusilator manual.
Monitor tekanan darah otomatis non invasif dan pompa infus
sangat dibutulikan. Kotak emergency kit jangan berisi obal-obat emergency
analgetik, sedatif, pelumpuh otot dan intubasi set sangat membantu untuk
mengatasi masalah-masalah darurat yang
mungkin terjadi selama tindakan transportasi pasien. Peralatan yang menggunakan
arus listrik harus
tetap berfungsi. Selama perjalanan, bila perlu membawa
baterai cadangan.
Peralatan yang terpasang pada pasien
seperti drainage, USD, iiifus line alau cup line, catheter harus dipaslikan
dalam keadaan ainan selama perjalanan. Semua peralatan tersebut liarus siap
pakai dan diperiksa secara teratur.
Prosedur
Tim transport harus lerbebas dari tugas
lain. Pelugas penenma lelali siap sebeluin
pemindahan dimulai. Waktu kedalangan diketaliui dengan jelas.
Sebelinn berangkat alal-alat siap, perbaikan pasien dapat dilakukan mis,
pemberian sedatif, menggand cairan infus, transfusi yang habis, memasukan
obat-obat motorik telah masuk ke dalam infus, dan sebagainya. Pemberian transport
lidak boleh mengabaikan pengobatan dan perawalan dasar pasien.
Lintasan
Tempat tidur/brancard, peralatan dan
petugas dengan ainan dapat melewati seluruh mte perjalanan. Jika tempat tidur
tidak dapat melewati rute mis pintu/lift gunakan brancard. (Kelemahan brancard
tidak cukup membawa alat yang dibutuhkan). Hindari trauma pada pasien atau
petugas selama memindahkan pasien
Lift harus digunakan
selain pengunjung/wartawan sebelum memindahkan pasien sehingga tidak
menghambat perjalanan. Gerakan dan gelaran yang kasar harus diminimalkan.
Status pasien diperiksa setiap interval tertcntu. Segala pembalian keadaan
pasien atau kondisi kritis yang mungkin terjadi dicatat.
Pemindahan pasien dapat menggunakan temapat tidur dengan catatan tempat tidur
beserta petugas dapat masuk lift dan dengan aman dapat melewati seluruh rute.
Transportasi Ekstra Mural
Perencana
Koordinasi dan komunikasi yang baik antar
tim evaluasi, dm ambulans dan petugas pada kedua tujuan akhir adalah sangat penting.
Komunikasi yang kurang akan membatasi penyebaran informasi
yang jelas dan memungkinkan petugas spesialis kurang
dapat mempertimbangkan dengan tepat akan adanya situasi yang krids. Saluran
telepon dan faksimile mengenai resusitasi alau pelaksanaan pasien krids sebelum
dm evaluasi tiba.
Sumber
Daya Manusia
Semua anggota dm harus mempunyai
kemainpuan dan pengalaman dalam diagnostik dan resusitasi. Petugas yang biasa
terkena mabuk perjalanan sebaiknya menghindari misi itu. Mabuk perjalanan bagi
pasien juga perlu diperhitungkan, karena dapat menyebabkan aspirasi. Medikasi
yang paling efektif untuk mabuk
perjalanan adalah Hydrobromide Hyosine (Skopolainine) berefek selama
4 jam pertaina perjalanan. Suntikan transdennal
dapat berefek selama 8 jam. Efek sampingnya adalah sedasi, mulut kering dan
distromia.
Peralatan
Peralalan
secara umum yang diperlukan antara lain tempat tidur/brancard
yang aman selama perjalanan, kotak medis dengan berat di bawah 40 kg. Peralatan
undik proteksi petugas seperti sarung tangan, masker, dan sebagainya.
Apabila
menggunakan peralatan elektronikaa
harus dilengkapi dengan baterai cadangan untuk 2 kali perhitungan. Alat
komunikasi jarak jauh. Peralatan selngkapnya dapat dilihat pada lampiran.
Prosedur
Penilaian pasien di tempat kejadian meliputi
A, B, C dari resusitasi ditambah koreksi suku dan biokimia. Lakukan intubasi
jika perlu di luar kendaraan. Tanda-tanda vital/data-data pendng seperti AGD, X
Ray dilakukan sebelum berangkat dan dilakukan cross cek golongan darah. Pasien
yang gelisah mungkin perlu diberikan sedasi.
Perhatikan selang drainase kedka
mengangkat pasien. Tercabutnya
selang drainase dapat menambah
resiko pneumodioraks. Kateter IV lebih baik dipasang jauh dari
persendian dan terjamin keamanannya. Jalur vena sentral
mungkin dibululikan. Penggunaan infus pump dapat mengurangi terputusnya ahran
infus. Infus dengan tekanan dapat diindikasikan untuk penggandan volume cairan
yang darurat. Obat-obat IV dipersiapkan dan diberi label dengan baik sebelum
digunakan. Jika nudi dihendkan liarus diperhitungkan kejadian hipoglikemia
harus dicegah dengan memberikan infus deksdose 10 % dan monitor gula darah.
Syringe pump dapat mengontrol pengaturan obat dan cairan dengan baik selama
perjalanan.
Passage
Transportasi udara digunakan untuk lintas
kota atau medan yang berat, darat biasa digunakan untuk daerah perkotaan, atau
daerah yang memungkinkan. Pesawat udara menjadi pilihan untuk sebagian besar
sistim medik darural, baik helikopter ataupun pesawat. Masalah utama penggunaan
transport udara adalah ketinggian yang
menyebabkan berkurangnya
tekanan parsial oksigen, meningkatnya tekanan gas di ruang
tertutup, dan menurunnya suhu udara.
Pasien yang mungkin terganggu dengan ketinggian
(hipoksemia berat) dapat dibenkan oksigen 100 % dan diterbangkan dengan
ketinggian serendah yang diijinkan. Posisi melintang akan memberikan perubahan
terkecil pada cairan tubuh, tetapi hanya sedikit alat transportasi yang mempunyai
ruang untnk iiu. Ada beberapa problem penting yang dapat lerjadi dalain
perjalanan antara lain :
a.
Brankard pasicn tidak sesuai dengan kcndaraan
yang digunakan.
b.
Lingkungan atau cuaca yang tidak baik.
c.
Ketidaknyanianan perjalanan, terik matahari,
malam hari.
d.
Getaran dan suara bising.
e.
Transportasi Khusus
a.
Transportasi pada Neoratus
Inkubator
biasanya besar dengan berat ± 80
kg, dan menggunakan tenaga 200 W (menggunakan AC atau DC) untuk hemostatis suhu
dan sekitar 20 W untuk monitoring. Kegunaan dari gas medis serta energi listrik
disediakan di kendaraan
adalali untuk mengurangi silinder
gas dan tenaga baterai konservatif yang harus dibawa. Aeronudical transport
adalali penting untuk mengatur Fi O2, meminimalkan resiko terjadinya
fibroplasia retrolental.
b.
Transportasi
pada Pasien yang mengalami kecelakaan
sewaktu menyelam
Pasien dengan
nyeri dikompresi atau emboh gas arterial tidak dapat ditolelir walau
kedalamannya rendah (100-200 m), karena gelembung yang meluas akan
mengakibatkan eksaserbasi gejala klinis. Untuk perjalanan udara, sebagian
besar pasien dengan kecelakaan di saat menyelam diberi
oksigen 100% dengan masker wajah, dan dievaluasi dengan kecepatan penuh pada
tekanan permukaan air laut ke unit hiperbarik yang dapat dipindahkan, dapat
dibawa ke tempat kejadian, tetapi beberapa modelnya dapat menimbulkan beberapa
masalah pembawaan, , dan kurangnya ruangan untuk membawa.
c.
Transportasi Pasien ICU bila terjadi kebakaran
Penyebab
kematian terbesar adalah inhalasi asap ddan keracunan CO serta Sianida.
Konsekuensinya, ketika thnbul kebakaran di dalam/di dekat Ruang ICU,
pertama-tama petugas harus memindahkan pasien yang bemafas spontan. Pasien
dengan ventilasi mempunyai suplai udara sendiri dan dapat dipindahkan
belakangan dimana asap telah termasuk.
Lift tidak boleh digunakan.
Beberapa hal
prinsip dalam pemindahan pasien perlu mendapat perhadan, antara lain :
1.
Jelaskan
pada pasien jika memungkinkan.
2.
Stabilisasi pasien seoptimal mungkin sebelum berangkat.
3.
Harus terencana, jangan tergesa-gesa.
4.
Pertaliankan
stabilitas selama perjalanan.
5.
Komunikasi yang adekuat antara pengirim dan
penerima.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar